Cara Gampang Belajar Bahasa Inggris
~ Saturday, July 7, 2012
Salah satu unsur bahasa adalah habit (kebiasaan) demikian yang diceritakan oleh guru bahasa indonesia saya waktu sekolah. Dan ternyata itu berlaku juga buat bahasa lain termasuk dalam bahasa inggris. "Membiasakan" adalah kuncinya. Jika anda ingin belajar bahasa inggris maka beranikan diri anda membiasakan berbahasa inggris. Guru bahasa inggrisnya Rektor Unika Soegiapronoto Semarang pernah berpesan "Jika ingin bisa berbahasa inggris, pergilah ke Singapura, dalam waktu 3 bulan kamu akan bisa berbahasa inggris". Berikut ini cerita bagaimana orang-orang yang awalnya tak bisa bahasa inggris namun mereka berani/terpaksa berbahasa inggris. Dan akhirnya bisa.
Tidak semua bangsa-bangsa yang maju bisa
berbahasa Inggris, tetapi anehnya bangsa-bangsa yang maju itu punya
ke-pede-an yang bagus. Jadi meski bahasa asing yang diterima secara
internasional (misalnya bahasa Inggris) kurang bagus, mereka pede saja.
Di Harvard, banyak anak-anak muda yang TOEFL-nya di atas 600, tetapi
kalau bicara, hmm,… susah mengerti apa yang mereka mau sampaikan. Tapi
toh mereka pede aja. Yang sering bingung adalah orang-orang yang diajak
bicara, tak jarang sama-sama susah dimengerti apa yang mau disampaikan.
Inggris logat India bertemu logat Korea dan Meksiko, susahnya minta
ampun untuk dimengerti. Tetapi mereka bisa tertawa-tawa bersama.
Prof. Michael Porter, Guru Besar senior di Harvard mengatakan hal yang
sama. Meski demikian, sebagai guru pantang mengintimidasi kemampuan
bahasa seseorang. “Bahkan gesture kita saja tak boleh mengintimidasi,”
ujarnya.
Di Boulder – Colorado, saat belajar bahasa Inggris,
saya pernah diajak makan siang oleh seorang teman dari Jepang. Dia
bertanya, mau tidak makan siang di Makuto Naruto. Penasaran dengan nama
resto itu, saya pun mengikutinya. Ternyata itu Mc Donald’s. Begitu
sampai di restoran saya pun terbahak-bahak dan kawan saya kebingungan
tidak mengerti mengapa saya menertawakannya. Setelah dijelaskan ia pun
tertawa sambil menggosok-gosok kepalanya. Orang Jepang kesulitan mengeja
kata yang huruf penutupnya bukan huruf hidup, jadilah Mc Donald, Makuto
Naruto.
Tetapi mengapa dengan bahasa Inggris pas-pasan seperti
itu mereka bisa mengasai dunia dan ada di mana-mana? Mereka ada di
seluruh sudut Eropa hingga ke Rusia dan eks Uni Soviet, di seluruh jagat
Afrika, dan tentu saja di Asia. Bahkan jauh sebelum menduduki
Indonesia, orang-orang tua kita bercerita, mereka sudah menjelajahi
kampung demi kampung dengan membawa pikulan.
Kini kita juga
menyaksikan orang-orang China dengan gelombang yang lebih besar lagi
menjelajahi seluruh jagat raya. Sebelumnya orang-orang Korea dan India
juga melakukan hal serupa. Tak semua imigran itu kaum sekolahan.
Sebagian besar generasi pertama asal China dan India yang datang ke
Amerika memang banyak didominasi oleh para penganggur yang berprofesi
sebagai penjaga toko dan supir taksi.
Berkat Guangxi atau
jejaring sosial, mereka survive dan memupuk modal. Orang-orang China
perantauan ini membuka usaha restoran dengan menu dan desain yang sama
direplikasi, dari uang arisan menyebar ke berbagai kota. Orang-orang
Korea juga sama. Kalau tak bisa berbahasa Inggris juga tidak masalah.
Mereka membuka usaha kecil yang membuka peluang untuk berbicara dengan
konsumen sedikit mungkin. Mereka membuka usaha laundry yang dioperasikan
secara otomatik.
Demikian juga orang-orang Eropa Timur. Mereka
masuk ke Amerika dengan membuka losmen-losmen kecil di daerah pinggiran.
Tidak bisa berbahasa Inggris tetapi pede aja. Hasilnya generasi kedua
mereka menjadi global citizen.
Kisah orang-orang Indonesia
diperantauan ternyata juga ada. Di tepi danau Rocca Di Papa, dekat
Roma-Italia, saya bertemu Dewi Francesca yang dulu menjadi pelayan
restoran di Bali. Dewi kini menjadi pemilik kafe yang indah dan diminati
para honeymooners. Apakah sejak dulu Dewi bisa berbahasa Itali?
Ternyata tidak.
Di Amerika, orang-orang yang mempunyai usaha
kecil juga bukan orang-orang yang berangkat dengan TOEFL score yang
tinggi. Seorang ibu yang sukses memimpin sebuah usaha pernah saya temui
di sebuah swalayan milik orang Korea dengan kata-kata yang aneh. Rupanya
ia ingin membuat gulai otak untuk suaminya. Saat menanyakan pada
petugas toko, ia bilang begini: “Sir, do you have brain?” Tentu saja
petugas toko mendelik.
Saya jadi teringat dengan Tukul Arwana
yang kosa kata bahasa inggrisnya semakin hari semakin banyak dan
terlihat pandai. Apa rahasianya?
Belajar dari para perantau yang
berhasil dan dari komedian yang cerdas, mungkin kita perlu berkaca
dengan sistem pendidikan bahasa di sekolah-sekolah kita. Dulu saya
belajar bahasa Inggris sejak SMP. Anak-anak sekarang sudah mulai belajar
bahasa Inggris sejak kelas 1 SD. Bahkan ada yang dari TK. Jadi,
masalahnya bukanlah kapan seseorang mulai belajar bahasa, melainkan apa
yang diajarkan.
Setahu saya sekolah-sekolah kita, selalu fokus
pada rumus, angka, dan rule. Bahkan yang diajarkan di bahasa adalah
grammar dan pronounciation. Grammar itu penting, tetapi tanpa keberanian
berbicara dan menulis, anak-anak kita tidak akan pergi ke mana-mana.
Mereka bahkan bisa menjadi sangat takut berbicara, kala grammar-nya
lupa, atau pronounciation-nya salah. Padahal, di dunia internasional
keberanian untuk berbicara akan membuka masa depan seseorang.
Orang-orang yang beranilah yang akan menguasai dunia. Yaitu berani salah
selagi muda, tapi terus belajar mengoreksi diri.
AYO PUPUK KEBERANIANMU…!
0 comments:
Post a Comment